Sampai sekarang ada ratusan bahkan ribuan artikel yang membahas tentang iman, baik dari arti kata itu sendiri sampai dengan isi dari iman itu sendiri. Semua masih membahas sebatas ucapan (Lafadzh) saja, sedangkan isi (kuantitas) dari iman terhadap Allah S.W.T itu sendiri belum tersentuh. Secara alamiah setiap orang beriman apapun bangsanya, apapun agamanya, apapun kepercayaannya, apapun sebutannya tentang iman ini masih merupakan Lafadzh dhoiriah, tetapi apakah ini cukup, dalam Kitab tafsir Jalalain Munadiqun ayat 63 "Biannahum Amanu bi lisan Tuma fakaru bil Qolbi", yang artinya kurang lebih adalah : orang yang mengaku beriman tetapi hanya di lisan, tidak di hati sehingga masih belum sempurna imannya.
Aqidah yang lain dalam Kitab tafsir Jalalain Thalaaq 65 ayat 11 mengatakan : "Alladina Amanu qoth anjallaluh hilaikum dijkron rosullan yatzhlu allaikum ayatillah mubayinatin", yang artinya kurang lebih : orang-orang beriman (Dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya. Juga pada Kitab tafsir Jalalain Munaafiquun ayat mengatakan : "Biannahum Amanu bi lisan tuma fakaru bil Qolbi" yang artinya kurang lebih orang beriman tetapi hanya di lisan, tidak di hati sehingga masih belum sempurna imannya.
Pada kitab Duror Bahiyah karangan Muhammad Hasbullah yang telah ditasheh oleh Syeikh Maqsudi ayat 7 kola nabi Muhammad S.A.W mengatakan : "Antaqbudoullah ning kaan nakatarohu" artinya ibadahmu seakan-akan melihat Allah diteruskan "Failamtakun tarohu fainnahu ya rokah" artinya tidak ada orang yang tahu dimana Allah berada tetapi Allah selalu melihat kita dalam setiap tindakan dan perilakunya.
Dan masih banyak lagi aqidah-aqidah yang menunjukkan tentang iman, tetapi bagaimana kita memaknainya dan juga mewujudkan iman itu sendiri, karena iman tidak hanya di lafadzkan saja tetapi harus di dalam hati terlepas dari semua keduniawian, ikhlas, selalu ingat kepada Tuhan dimanapun dia berada setiap saat, maka dari itu dapat diistilahkan membawa iman.
Kalau dapat digambarkan secara kejadian sehari-hari orang beriman adalah orang yang memiliki SIM (Surat Ijin Mengendarai). Orang yang memiliki SIM belum tentu membawanya dalam perjalanannya, sehingga jika terjadi razia* yang tidak tahu kapan dan dimana terjadinya (*razia kita ibaratkan mati/meninggal) maka akan ditangkap, disidang dan dijebloskan ke penjara jika kita tidak bisa menebusnya dengan sejumlah uang yang ditetapkan. Demikian juga dengan membawa iman jika sewaktu-waktu kita mati jika iman melekat pada kita maka selamatlah kita dari api neraka, tetapi jika kita mati tidak membawa iman maka celakah kita masuk neraka selamanya.
Lantas bagaimana wujud iman tersebut sehingga kita bisa membawanya setiap saat dan kemanapun kita berada, di bawah ini ada uraian mengenai membawa iman, maknai dengan hati karena ilmu pengetahuan saja tidak cukup dan hal yang paling penting adalah untuk mengenal Allah dan percaya kepada-Nya. Semakin kita mengenal-Nya, hati kita akan tenang, tidak ada keraguan dalam diri kita baik di kehidupan ini maupun di hari kemudian. Hal itu sudah dijamin oleh Allah.
Dzikir merupakan kunci dari membawa iman, tetapi dzikir itu sendiri masih ada tingkatannya :
Bagaimana kita dapat mencapai hal tersebut, karena ingat terhadap Allah itu ada tingkatan-tingkatan yang harus dilalui, mulai dari sap langit tingkat 1 (satu) sampai dengan langit tingkat 7 (tujuh), lapis baja, Kabut, lapis baja lagi, Perempatan, kabut roh Mahfudz, kabut ngaras dan diakhiri pada Dzat Allah S.W.T (Istiqomah).
Kita sangat berat dengan keinginan tubuh kita yang tidak dapat kita bawa dari bumi ke surga. Ego mempunyai 180.000 ikatan alam untuk mengikat diri kita kepadaNya dan kepada dunia. Jika kita tidak memotongnya satu per satu, kita tidak akan bebas.
Sangat penting untuk dilatih oleh seorang yang ahli, yang akan mengarahkan kita keluar dari hegemoni ego kita. Kita tidak bisa melakukannya sendiri. Hal itu adalah mustahil walaupun dengan membaca 1.000 buku.
Jika kita tidak menemukan guru yang sejati, kita tidak akan bisa memutuskan ikatannya. Begitu banyak ahli palsu yang banyak dikejar-kejar orang, padahal mereka tidak akan pernah mencapai kemajuan, karena mereka bukanlah guru yang sejati. Guru-guru palsu tersebut tidak bisa melakukan apa-apa. Karena ketika kita melakukan Tauhid, kemudian membuka mata kita mereka masih berada di bumi. Jika kita tidak memotong hubungan fisikmu dengan bumi, mesin spiritualmu tidak akan mengangkatmu ke angkasa sampai dengan Dzat.
Sangat sulit menemukan guru yang sejati, begitu pula untuk mengikutinya. Jika kita kehilangan langkah, kita tidak bisa bergerak. Rasulullah menuju Kehadirat Ilahi dan beliau mengundang kita untuk datang bersamanya. Beliau meninggalkan para penerusnya untuk mengikuti jejaknya melalui silsilah yang asli menurut jalurnya.
Begitu banyak guru palsu yang hanya membuat orang berputar-putar, tidak pernah naik. Harta karun jauh di angkasa. Oleh sebab itu hal yang paling penting adalah mencari guru yang sejati. Setiap guru sejati dari thariqat Qodoriah wa Naqshbandi akan menggenapi semua peribadahanmu sehingga semua perbuatan dan tingkah laku kita akan lurus kepada Allah S.W.T.
Pada kitab Duror Bahiyah karangan Muhammad Hasbullah yang telah ditasheh oleh Syeikh Maqsudi ayat 7 kola nabi Muhammad S.A.W mengatakan : "Antaqbudoullah ning kaan nakatarohu" artinya ibadahmu seakan-akan melihat Allah diteruskan "Failamtakun tarohu fainnahu ya rokah" artinya tidak ada orang yang tahu dimana Allah berada tetapi Allah selalu melihat kita dalam setiap tindakan dan perilakunya.
Dan masih banyak lagi aqidah-aqidah yang menunjukkan tentang iman, tetapi bagaimana kita memaknainya dan juga mewujudkan iman itu sendiri, karena iman tidak hanya di lafadzkan saja tetapi harus di dalam hati terlepas dari semua keduniawian, ikhlas, selalu ingat kepada Tuhan dimanapun dia berada setiap saat, maka dari itu dapat diistilahkan membawa iman.
Kalau dapat digambarkan secara kejadian sehari-hari orang beriman adalah orang yang memiliki SIM (Surat Ijin Mengendarai). Orang yang memiliki SIM belum tentu membawanya dalam perjalanannya, sehingga jika terjadi razia* yang tidak tahu kapan dan dimana terjadinya (*razia kita ibaratkan mati/meninggal) maka akan ditangkap, disidang dan dijebloskan ke penjara jika kita tidak bisa menebusnya dengan sejumlah uang yang ditetapkan. Demikian juga dengan membawa iman jika sewaktu-waktu kita mati jika iman melekat pada kita maka selamatlah kita dari api neraka, tetapi jika kita mati tidak membawa iman maka celakah kita masuk neraka selamanya.
Lantas bagaimana wujud iman tersebut sehingga kita bisa membawanya setiap saat dan kemanapun kita berada, di bawah ini ada uraian mengenai membawa iman, maknai dengan hati karena ilmu pengetahuan saja tidak cukup dan hal yang paling penting adalah untuk mengenal Allah dan percaya kepada-Nya. Semakin kita mengenal-Nya, hati kita akan tenang, tidak ada keraguan dalam diri kita baik di kehidupan ini maupun di hari kemudian. Hal itu sudah dijamin oleh Allah.
Dzikir merupakan kunci dari membawa iman, tetapi dzikir itu sendiri masih ada tingkatannya :
- Dzikir Dhohir adalah dzikir yang biasa kita lafalkan sehari-hari, yaitu Laa Hilaah Illalloh sifatnya masih baru lafadzh belum menyentuh hati kita.
- Dzikir Siri adalah dzikir yang telah menyentuh hati tetapi pikiran dan angan-angan masih di lingkungan alam, sehingga masih berputar-putar belum sampai kepada Allah S.W.T.
- Dzikir Tauhid adalah dzikir yang paling tinggi tingkatannya dan paling menyentuh hati karena mata hati kita hanya ingat terus kepada Allah seolah-olah Allah lurus ada diatas kita.
Bagaimana kita dapat mencapai hal tersebut, karena ingat terhadap Allah itu ada tingkatan-tingkatan yang harus dilalui, mulai dari sap langit tingkat 1 (satu) sampai dengan langit tingkat 7 (tujuh), lapis baja, Kabut, lapis baja lagi, Perempatan, kabut roh Mahfudz, kabut ngaras dan diakhiri pada Dzat Allah S.W.T (Istiqomah).
Kita sangat berat dengan keinginan tubuh kita yang tidak dapat kita bawa dari bumi ke surga. Ego mempunyai 180.000 ikatan alam untuk mengikat diri kita kepadaNya dan kepada dunia. Jika kita tidak memotongnya satu per satu, kita tidak akan bebas.
Sangat penting untuk dilatih oleh seorang yang ahli, yang akan mengarahkan kita keluar dari hegemoni ego kita. Kita tidak bisa melakukannya sendiri. Hal itu adalah mustahil walaupun dengan membaca 1.000 buku.
Jika kita tidak menemukan guru yang sejati, kita tidak akan bisa memutuskan ikatannya. Begitu banyak ahli palsu yang banyak dikejar-kejar orang, padahal mereka tidak akan pernah mencapai kemajuan, karena mereka bukanlah guru yang sejati. Guru-guru palsu tersebut tidak bisa melakukan apa-apa. Karena ketika kita melakukan Tauhid, kemudian membuka mata kita mereka masih berada di bumi. Jika kita tidak memotong hubungan fisikmu dengan bumi, mesin spiritualmu tidak akan mengangkatmu ke angkasa sampai dengan Dzat.
Sangat sulit menemukan guru yang sejati, begitu pula untuk mengikutinya. Jika kita kehilangan langkah, kita tidak bisa bergerak. Rasulullah menuju Kehadirat Ilahi dan beliau mengundang kita untuk datang bersamanya. Beliau meninggalkan para penerusnya untuk mengikuti jejaknya melalui silsilah yang asli menurut jalurnya.
Begitu banyak guru palsu yang hanya membuat orang berputar-putar, tidak pernah naik. Harta karun jauh di angkasa. Oleh sebab itu hal yang paling penting adalah mencari guru yang sejati. Setiap guru sejati dari thariqat Qodoriah wa Naqshbandi akan menggenapi semua peribadahanmu sehingga semua perbuatan dan tingkah laku kita akan lurus kepada Allah S.W.T.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar